Belajar Berhitung

Abang (anak pertamaku) kini berusia enam tahun. Ia masih berada di nol besar TK umum Jepang, tapi sudah satu semester ini mengikuti program daring dari SD di Indonesia dengan materi Tematik untuk anak kelas 1 SD. Menarik juga melihat buku diktat anak SD Indonesia zaman now yang mencampurkan pelajaran Matematika dengan subjek Bahasa Indonesia, English, dan Kewarganegaraan sampai kelas 3. Belajar berhitung jadi terasa ringan.

Sementara itu, Adik (anak keduaku) masih batita dan belum masuk sekolah. Jika Abang terpapar oleh video-video lagu anak di YouTube saat masih bayi sehingga sudah hafal alfabet, angka latin, dan warna sebelum usia dua tahun, Adik baru mulai belajar dari lingkungannya belakangan ini. Kami punya aturan untuk “berhitung sembari menunggu giliran” kepada anak-anak ketika mulai berebut mainan atau makanan. Barang berpindah tangan ketika hitungan selesai.

Read the full post »

Bibit Kecintaan pada Literasi

Sabtu lalu aku mengikuti webinar internal dengan sesama teman FLP Jepang. Uda Ivan Lanin, sang narasumber sekaligus tokoh bahasa yang kukagumi, memberikan materi terkait diksi. Sepanjang sesi itu mataku berbinar-binar. Aku suka sekali segala bahasan tentang kata. Dari dulu ada saja yang menyebutku EYD berjalan lah, polisi ejaan lah, dan juga spesialis dokumen. Padahal, ternyata makin ke sini aku makin kewalahan mengikuti perkembangan Bahasa Indonesia dan banyak sekali hal yang belum aku pahami.

Kalau dipikir-pikir, kecintaanku pada menulis sepertinya berawal dari hobiku saat SD dulu. Sejak kelas 2 SD, Mom (ibuku) membelikanku KBBI fisik terbitan Balai Pustaka yang tebalnya bisa dipakai buat bantal itu. Setiap hari aku gemar membuka tutup isinya untuk mencari berbagai definisi kata dan macam-macam pembentukannya walaupun tidak ada PR atau pelajaran. Di antara teman-teman sekelasku, rasanya hanya aku yang bela-belain punya kamus itu, bahkan kadang membawanya ke sekolah! Kamus itu jilidannya lepas berkali-kali, lalu dilem dan diselotip berkali-kali sampai wujudnya tak berbentuk lagi.

Sebelum kelulusan SD, aku mendapat tugas karya tulis sederhana dari guru IPS. Papa (ayahku), yang selalu punya ide liar dalam tugas-tugas sekolahku, menyarankan untuk menulis tentang industri rumah tangga milik orang-orang di kampung kami. Aku disuruh blusukan seorang diri ke kampung, mewawancarai beberapa pedagang, dan mengamati mereka berjualan. Setelah jadi, ternyata laporannya sudah menyerupai tebal skripsi mahasiswa. Lengkap dengan subbab yang bertingkat-tingkat dan foto-foto hasil investigasi! Hahaha.

Read the full post »

Tertohok Isu Childfree

Aku pernah menulis hasil penelitian Universitas Harvard yang dilakukan selama 75 tahun (kini sudah 80 tahun jika masih ada) tentang “menemukan kebahagiaan dalam hidup”. Pada saat studi tersebut dipresentasikan di program TEDx, kesimpulan yang didapat oleh tim Robert Waldinger, pemimpin peneliti generasi terakhir, menetapkan good relationship sebagai kunci hidup bahagia. Kala itu, aku seketika teringat salah satu poin penting dalam buku yang sedang kubaca:

The single best predictor for happiness is having friends

Brain Rules for Baby oleh John Medina
Read the full post »

Cat Merah Putih dan Seragam Drumben

Berbicara tentang tujuh belasan, memoriku langsung melayang pada kehebohan yang terjadi di rumah orang tuaku setiap bulan Agustus. Momen kemerdekaan menjadi jalan berkarya yang luas untuk keduanya melalui peran masing-masing.

Ibuku, seorang penjahit dengan usia studio jahit yang lebih tua dariku, sudah puluhan tahun menerima pesanan seragam drumben, termasuk kostum untuk mayoretnya. Kami harus maklum kalau di bulan itu beliau tidak bisa menemani tidur karena harus bekerja lembur hingga pagi di studionya, mempersiapkan potongan kain untuk dijahit karyawannya di pagi hari. Sejak sekitar bulan Juni, beliau juga biasanya sudah sibuk bolak-balik luar kota demi berbelanja bahan kain dan aksesoris pasukan (sepatu boot, tongkat mayoret, topi, dll.).

Kami suka kasihan sendiri melihatnya sampai kayak zombie karena seringnya bukan hanya 1-2 sekolah saja yang menjahitkan seragam drumben ke beliau. Belum lagi jahitan baju biasa dari pelanggan lain yang harus diselesaikan sesuai janji juga. Mom, begitu panggilanku ke beliau, juga menyewakan pakaian tradisional yang banyak dicari orang menjelang karnaval. Karyawannya tidak cukup pintar mencarikan ukuran yang pas untuk calon penyewa dan tidak cukup ilmu pula untuk memadu-madankan antara atasan dengan bawahan sehingga harus beliau juga yang melayani konsumen. Kadang, di antara baju-baju daerah yang disewakan itu ada yang rusak atau kurang elemennya, jadi harus diperbaiki dulu. Wah, banyak banget pokoknya kerjaan beliau menjelang tujuh belasan.

Hasil karya Mom
Read the full post »

Bonus Setelah Lulus dari Kampus

Di tulisan sebelumnya, aku sudah bercerita tentang beragamnya manusia yang kutemui di kampusku dulu. Fast forward dari masa-masa kuliah itu, setelah lulus hingga menjadi ibu dua anak saat ini, aku merasa bahwa rezeki terbesar yang kudapat sebagai alumni adalah networking. Pertemuan dengan manusia-manusia terpilih dari seluruh Indonesia ternyata memegang peranan yang lebih penting bagiku hari ini dibandingkan dengan paparan materi kuliah di ruang kelas. Gimana enggak? Di sanalah … di titik-titik pewe (posisi wuenak) aktivis sayap depan (Masjid Salman) dan sayap belakang (Sunken Court), aku kerap bertemu dengan seorang mahasiswa yang kini jadi bapak anak-anakku. Kedekatan kami, yang berbeda prodi dan angkatan, terbangun dari keaktifan kami berdua di unit kegiatan mahasiswa. Coba kalo enggak rajin bergaul, mana bisa aku kenal dia sampai kemudian sampai pada diskusi tentang pernikahan seperti Dilan dan Milea? Ha ha ha.

Sebulan setelah menikah dengan kakak fakultasku itu, sepertinya jiwa emak-emakku mulai muncul dan membuatku mulai mencari komunitas yang bisa menjawab segala kegalauan seputar babak hidup yang baru. Aku lupa dari mana asalnya, tapi kemudian aku tahu bahwa ada sebuah grup bernama ITB Motherhood di Facebook yang beranggotakan wanita-wanita lulusan ITB dan belum lama dibentuk oleh para senior angkatan 2004. Hanya sebatas itu informasi yang kutahu. Aku belum pernah tahu apa programnya, isinya, tujuannya, dan sebagainya, tapi dari namanya saja aku sudah percaya bahwa inilah grup yang kubutuhkan. Tepat sehari sesudah mensiversary pernikahanku yang pertama, aku pun bergabung dengan grup itu.

Read the full post »

Indonesia Mini di Kampusku

Tema tulisan kali ini (klik sumber)

Di mana lagi kutemukan keragaman negeriku kalau bukan saat aku kuliah di Kampus Gajah. Sebenarnya aku sudah merantau sejak SMA ke Jogja, sebuah kota pendidikan yang super homey dan menjadi tujuan sekolah orang dari seluruh penjuru negeri. Namun, kuota penerimaan siswa luar daerah di tingkat SMA pada waktu itu (2004) sangatlah terbatas sehingga tidak banyak anak luar kota Jogja yang punya nyali untuk bersaing masuk ke sekolah-sekolah favorit di kota itu. Jangankan luar Jawa, pada saat pendaftaran siswa baru, lulusan SMP asal luar provinsi sepertiku saja tak berani pongah melihat nilai-nilai calon siswa dari Sleman, Bantul, dan kota-kota lain di DIY selain Yogyakarta. Beruntung, aku diterima walaupun sempat culture shock karena sekolahku ternyata Islami sekali. Aku harus beradaptasi dengan atmosfer “pesantren” SMA-ku dan dikenal sebagai anak kamaran di indekos. Barulah ketika menginjakkan kaki di tanah pasundan, aku mulai mengenal berbagai macam perbedaan suku, bahasa, dan agama di Indonesia yang sebenarnya.

Read the full post »

Sampahmu Tanggung Jawabmu

Bicara soal peduli sampah, rasanya jadi non-sense kalau kita banyak beretorika tentang bagaimana seharusnya sampah dipilah, diolah, dan dibuat musnah pada tataran kota atau negara, tapi sampah dari aktivitas kita sendiri masih terabaikan. Zalim enggak sih kalau sampah kita menjadi gangguan bagi orang lain meskipun sebentar atau sedikit? Jangan-jangan kekesalan orang terhadap tingkah kita menghilangkan berkah yang seharusnya kita dapat setelah melakukan kegiatan full faedah?

Nah, aku punya cerita menarik terkait sampah makanan restoran. Dulu, saat aku kuliah di Jepang dan mengikuti konferensi di Shanghai bersama teman-teman satu perkuliahan, kami dinner di sebuah restoran cepat saji …

Teman Jepang: “Eh, itu orang jelek banget kelakuannya, habis makan kok enggak diberesin. Mejanya berantakan banget!”

Kaget, enggak nyangka ada orang yang heran melihat fenomena seperti itu. Belum pernah ke luar negeri ya, Mas? di Indonesia juga gitu, kali’ … batinku dalam hati. Pengen ketawa takut dosa. Untungnya ada teman lain yang menjelaskan bahwa di negeri itu memang perkara membereskan meja selepas makan menjadi urusan staf restoran terkait. Jadi, tidak ada yang salah dengan orang itu tadi. Gantian deh teman Jepang itu yang kaget. Wkwkwk.

Dua Jenis Vendor Makanan di Jepang

Di Jepang, sebetulnya tidak semua restoran mengharuskan pelanggannya untuk bersih-bersih sendiri. Cara mengetahuinya yang paling mudah adalah dari timing pembayarannya.

  • Jenis 1: Semua restoran, warung, atau kedai di food court dengan sistem pembayaran di depan (sebelum makan) udah pasti perabotan makannya harus kita kembalikan sendiri ke tempat yang sudah mereka sediakan. Itu tandanya sampah sisa makanan juga menjadi tanggung jawab kita. Tisu untuk membersihkannya pun kadang dari kita sendiri, kecuali disediakan lap bersih untuk pelanggan gunakan. Makanya, tak heran kalau teman Jepang-ku tadi terheran-heran ketika melihat kondisi meja bekas makan orang yang lain budaya. Kurang piknik dia. Ha ha ha. Oh ya, untuk sampah, biasanya sudah disediakan bak sampah kertas dan plastik. Agak beda memang dengan aturan pemilahan sampah kota yang dibedakan berdasarkan burnable dan non-burnable.
  • Jenis 2: Sementara itu, di restoran dengan bill di belakang seperti sushi, ethnic foods, dan washoku (makanan Jepang yang piringnya banyak itu), peralatan makan yang selesai digunakan cukup dibiarkan di meja dalam kondisi rapi sampai staf datang untuk membereskannya kemudian. Kondisi rapi itu yang bagaimana? Sampah-sampah sudah disatukan, piring-piring sudah ditumpuk berdasarkan besar kecilnya, dan kalau ada sisa air minum atau sup gitu juga sebaiknya dihabiskan.

Aturan Tidak Tertulis di Restoran

Selain aturan membereskan apa yang ada di meja, ada satu lagi kebiasaan kami di sini, yakni membersihkan sampah yang berceceran di bawah tempat duduk kami selama atau sesudah makan. Ini berlaku di kedua jenis restoran sih. Pokoknya, saat kami meninggalkan kursi dan meja makan, kondisinya sudah harus sebersih saat kami datang. Meskipun ada cleaning service, kan mereka tidak setiap saat bisa membersihkan seluruh lokasi.

Seringkali juga restoran hanya punya karyawan yang bekerja di balik batas dapur dan area makan. Mereka jugalah yang merangkap sebagai tukang bersih-bersih. Kebayang kan kalau pelanggan lagi ramai lalu mereka tidak sempat meninggalkan pelayanan, sedangkan kita sudah selesai makan dan ada pelanggan lain yang mau pakai meja kita. Betapa il-feel mereka kalau harus menempati meja dengan remahan roti, butiran nasi yang menyebar, atau mejanya masih lengket karena minuman yang tumpah. Tanpa ditulis pun, rasanya semua orang di sini sudah paham hal ini. Repotnya mengajak anak kecil makan di luar dan membiarkannya makan mandiri ya ini! Ceceran makanannya kayak bebek kan mereka. Kerja bakti ngepel lantai restoran sudah biasa. 😛

Aku pikir, dari kebiasaan sederhana di atas, kita bisa mengajarkan semangat untuk peduli akan sampah, tidak merepotkan orang lain, bahkan meraih berkah dari-Nya karena sudah beramal baik. Bukankah permasalahan lingkungan bermula dari pengabaian akan sampah?

Sampah kita tentu saja tanggung jawab kita juga!