Ogata: Desa Penghasil Beras di Jepang

Halo, kita masih di edisi mengulas sesuatu, nih. Minggu ke-3 ini temanya “tempat”. Awalnya saya terpikir untuk menulis review tempat di Indonesia mengingat segmen pembaca masih banyak dari tanah air, tapi berhubung di grup Magata banyak yang excited dengan “desa di Jepang”, terpilihlah perjalanan musim semi dua tahun lalu untuk dibahas di sini. Yuk, kita jalan-jalan virtual ke Ogata Village, sebuah desa di wilayah Akita, prefecture penghasil beras no.3 terbesar di Jepang.

Bagi turis Indonesia, desa di Jepang yang terkenal mungkin Shirakawa-go, tapi dari dulu kami cari tujuan wisata selalu berdasarkan minat dan keperluan. Kebetulan keduanya belum membawa kami ke sana, lagian kalau enggak bersalju sebetulnya ‘biasa aja’ menurut orang lokal pun. Nah, terus kenapa ke Ogata? Menariknya apa? Coba lihat foto berikut.

Tambo art (Tambo 田んぼ : rice field / sawah yang ditanami padi). Rasanya tak percaya kalau semua gambar yang kita lihat ini sejatinya adalah sawah yang sengaja ‘dibentuk’.

Keren, kan? Saya masih ingat crop art macam ini pernah heboh di negeri +62 karena diplesetkan sebagai ‘jejak alien’. Wakakak.. padahal memang bikinan manusia ini ada beneran dan dijadikan pertunjukan setahun sekali di desa Ogata. Sayangnya, kesempatan kami pergi ke sana saat itu tidak bertepatan dengan digelarnya ‘pameran’ sawah bergambar yang tiap tahunnya diadakan sekitar tengah Juli sampai tengah Agustus ini. Pada saat itu, konon tumbuhan padi bisa mewujud tujuh warna. Wow! Sementara itu, kalau datang saat April-Mei seperti kami, yang bisa dilihat hanyalah kotak-kotak cikal bakal padi di dalam rumah kaca atau hamparan sawah yang baru digemburkan dan siap ditanami (foto-fotonya bisa diintip di sini). Hehe. Namun, itu semua tidak mengurangi keseruan kami mengunjungi desa Ogata. Musa bisa mencoba naik monster truck dan traktor yang bannya luar biasa gede.

Read the full post »

Baca Buku Lagi, Tiga Nonfiksi di Januari

Sejak merantau di tingkat SMA, saya bukan lagi anak kutu buku. Alasannya ya karena udah jarang beli buku dan enggak punya waktu. Ketimbang dipakai buat duduk dan baca buku, saya sebagai extrovert lebih suka bersosialisasi. Bisa ditebak kan ketika medsos akhirnya booming dan saya pun jadi emak? Semakin tak ada nafsu membaca buku, apalagi menamatkan. Hal yang sama berlaku dalam urusan film. Saya dan suami hanya punya kesempatan “nonton” saat berada di penerbangan internasional. 😂

Seperti garis takdir, di akhir tahun kemarin secara kebetulan saya dipertemukan lagi dengan orang-orang yang mencintai dunia menulis dan literasi, yang kemudian membawa saya kembali larut dalam lautan kata, baik menulis maupun membaca. Ngomong-ngomong, saya tuh percaya kalau mau bisa nulis atau ngomong yang berkualitas, input juga harus cukup biar enggak kayak tong kosong nyaring bunyinya. Setelah bertahun-tahun tidak pernah ada target baca buku dewasa (buku anak sih tiap hari.. ha ha), awal tahun ini saya niatkan untuk serius baca buku lagi. Mulailah saya berlangganan Gramedia Digital. Lumayan, dalam sebulan bisa baca tiga buku walaupun belum semua selesai. Berikut review ketiganya…

(1) Berani Tidak Disukai (Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga)

Buku pertama dari “tetralogi” Kishimi-san ini kayak nonfiksi yang lagi menyamar jadi novel karena teori ilmiah seputar psikologi ala Adler disajikan dalam bentuk percakapan 100%. Dari pendekatan itu saja sudah berhasil memikat saya di bab-bab awal. Meskipun enggak punya background keilmuan terkait pembahasannya, kedua tokoh di dalamnya mewakili pemikiran pembaca yang pastilah bisa mirip salah satu: dengan si pemuda (pesimis, memandang hidup berat untuk dikendalikan) atau dengan sang filsuf (optimis, santuy menghadapi hidup). Saya sendiri kadang manggut-manggut dengan kata-kata filsuf, tapi di suatu titik pernah sepakat dengan pemuda, misalnya waktu ia mengkonfirmasi, “Masa iya ada orang yang mau berada di posisi enggak enak karena maunya dia sendiri?”, kan kayak aneh, ya, tapi memang ada kok. Begitu bacanya diteruskan sampai ke contoh kasus, saya langsung ngeh “Eh.. iya juga ya!”.

Begitulah cara penulis menggiring pemahaman pembaca ke optimisme hidup yang banyak dituturkan dalam buku ini. Tak heran bila masyarakat Jepang memberi apresiasi tinggi. Dengan besarnya tekanan hidup di Jepang yang bermuara pada pencapaian jabatan, finansial, atau prestasi ‘duniawi’ lainnya hingga memicu banyak kasus bunuh diri, ajakan untuk berani mengubah gaya hidup dan keluar dari bingkai alasan demi diterima di masyarakat tentu sangat dibutuhkan. Kurangnya buku ini cuma karena enggak ada landasan agamanya aja 😛

(2) Memorizing Like An Elephant (Yudi Lesmana)

Baru tahu kalau ada teknik-teknik mengingat yang melatih otak kita untuk menyimpan informasi lebih lama. Kita juga bukan cuma baca, melainkan diajak mempraktikkan langsung di setiap akhir pemaparan metode yang semua berasal dari pengalaman mas Yudi sendiri selama mempersiapkan dan mengikuti kejuaraan mengingat tingkat dunia. Grandmaster of Memory ini enggak pelit bagi ilmu sama sekali. Saya sudah coba beberapa tekniknya dan terbukti lho mengurangi lupa, terutama urusan naruh barang dan kapan terakhir melakukan suatu pekerjaan 😀 Soal-soal latihannya buanyak banget, jadi kadang overwhelmed juga. Tidak semuanya sempat saya kerjakan.

(3) The ‘O’ Project (Firliana Purwanti) — 17+

Terlepas dari beberapa pandangan yang berseberangan dengan pemahaman saya akan syariat yg of tt agama, saya mengapresiasi proyek penelitian yang dituangkan dalam buku ini. Menurutku, perlu buat wanita tahu berbagai pandangan akan seks bagi para wanita lain di luar sana. Catatan ilmiah yang disertakan juga sarat makna dan informasi, jadi saya banyak belajar juga tentang orgasme yang dari dengarnya aja orang mungkin udah auto nyinyir. Wkwk.. padahal hubungan suami istri itu ibadah juga. Penting lah update ilmu sesekali. Recommended pokoknya asal filternya bener 🙂

Solusi Mengaji Emak Rempong

Khusus buat #tantanganmagata perdana ini saya mau bahas hal yang belum pernah saya ceritakan di media mana pun: tentang lingkaran mengaji saya. Kadang ada yang nanya, “Ega ngaji di mana, sih?”. Ehem.. long story sebenarnya kalau mau diceritakan perjalanannya. Sejak SMA hingga lulus S2, saya pernah ikut pembinaan, bahkan jadi pembina, di salah satu kelompok ngaji, tapi semua bubar jalan setelah saya mengalami pergulatan batin yang cukup hebat. Singkatnya, setelah itu saya hanya mau mengikuti pengajian umum yang tidak terikat kurikulum tertentu dan streaming kajian ustaz dari berbagai belahan dunia secara mandiri. Untungnya, saat kemudian merantau ke Michigan setelah itu lalu pindah Tokyo, komunitas muslim yang solid dan koneksi internet yang oke memudahkan saya untuk mencapai itu.

Dengan mode berpindah rumah tiap satu atau dua tahun sekali, tak terasa sudah enam tahun saya lepas dari pembinaan. Beberapa kali ditawari mengaji lagi di lingkaran yang dulu saya tinggalkan, tapi hati ini belum rela. Haha. Cuma saya sadar, tidak ada yang bisa menggantikan posisi “guru” dalam menuntut ilmu. Tidak cukup kita hanya menyimak sana-sini saja tanpa ada yang memvalidasi pemahaman kita. Nah, mungkin udah takdirnya, tiba-tiba suatu hari ada teman di Jepang yang bercerita kalau dia sedang mengikuti sebuah halaqah online (halaqah: lingkaran, konteksnya melingkar untuk menerima ilmu dari guru). Saya pelajari programnya, profil pengajarnya, ulasan orang tentangnya, dan sistemnya. Tanpa pikir panjang, resmilah saya bergabung dengan HSI Abdullah Roy di akhir tahun 2019.

(c) egadioniputri 2021

HSI ini full online. Semua materi dibahas detil via Whatsapp voice messages, tapi waktunya dicicil maks. 10 menit/hari, jadi kita enggak terasa berat menerimanya dibandingkan halaqah pada umumnya yang harus duduk sejam buat bahas satu topik. Udah gitu, ada evaluasi harian, pekanan, dan akhir yang dikerjakan via website dengan kalkulasi nilai otomatis. Tes itu menentukan kita masih bisa lanjut belajar terus atau harus out karena nggak serius. Di akhir tiap silsilah, ada transkrip nilai dan sertifikat. Semua ditunjang dengan desain grafis yang keren, bahkan ketika ada gangguan server, tim admin sigap menangani. Fix saya suka!

Selama setahun ikutan HSI saya merasa hidup jadi lebih hati-hati. Karena berbasis sunnah (menitikberatkan akidah dan dalil sahih), banyak hal yang membuat saya menilik lagi pendapat para ulama besar. Belajar di sini nggak instan. Harus sabar. Satu silabus saja kira-kira lima tahun baru selesai. Kebayang kan dalemnya ilmu yang dipelajari? Makanya biar pun udah lama hijrah (cieee), tetap saja sering dapat ‘Oh’ moment. Kalau mau belajar materi lain di luar kurikulum halaqah juga hampir tiap hari ustaznya live di Youtube buat ngasih kajian interaktif. Yang paling penting, semuanya gratis!

(c) egadioniputri 2021 – tampilan platform pendukung untuk internal HSI

Ikut HSI jadi berasa kaya sekolah tipis-tipis. Pemahaman kita bisa divalidasi. Komitmen waktu diminta. Sistem kaya gini jadi solusi buat emak rempong yang harinya kerap habis untuk urusan domestik dan juga sulit meninggalkan pasukan. Dulu sebelum pandemi, kalau pengajian bulanan aja tuh harus booking suami jauh hari sebelumnya biar pas hari-H dia bisa jagain anak-anak saat saya ngaji. Wkwk. Ya.. pokoknya mau enggak ada Corona juga mendingan via online aja deh kalau judulnya “belajar” walaupun minus ketemu teman dan makan enak 😀

Protected: All About R

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Bisnis Emak Rantau Sharing Week

Dear all! Udah lama banget, ya, saya nggak nulis di sini. Sebetulnya sudah berpikir untuk menutup blog ini dan menjadikannya museum saja, tapi rupanya masih selalu ada sisi personalku yang tidak tepat dimasukkan ke blog keluargaku (yang isinya sekarang juga sudah jarang di-update, kecuali cuma dari feed medsosku saja.. wkwk. zaman memang sudah berubah.)

Di tahun 2020 yang penuh sejarah bagi bumi ini, di mana kegiatan online mendominasi hidup manusia termasuk keluargaku (sampai anakku aja punya TPA online :P), saya merasa harus menyalurkan hobi bikin acara di dunia maya juga. Maka, setelah lama memendam keinginan untuk wawancara teman-teman yang punya bisnis, khususnya yang sama-sama tinggal di luar negeri, akhirnya saya seriusin deh untuk bikin sharing project. Jadilah, acara sepekan online yang kuberi hashtag #BisnisEmakRantau.

Saya akan tulis detilnya di sini agar mudah dinavigasi segala printilannya. Sekalian nulis behind the scene-nya sedikit.

PERSIAPAN ACARA

Awalnya saya bingung gimana nentuin pembicaranya saking banyaknya emak rantau yang punya bisnis di daftar pertemananku. Mulai dari yang usaha kecil-kecilan yang buka tutupnya sesuka owner-nya sampai yang omzetnya udah ratusan juta rupiah kali ya bulanannya. Namun, saya kecilkan segmentasinya jadi mereka yang masih atau pernah menjalankan bisnisnya di luar negeri aja sebagai narasumbernya karena kondisi merantau, kan, beda, ya, dengan menetap di negeri sendiri. Oke lah, kemudian aku seleksi lagi sederet kandidat yang ada dilihat dari perbedaan tipe usahanya, kedekatannya denganku, keeksisan dia di dunia maya maupun nyata, dan pastinya yang kira-kira pede disuruh ngomong ke publik. Wkwk.

Langkah selanjutnya, melamar mereka dong pastinya. Saya kirim pesan via chat, nawarin mau nggak? Sesudah positif responnya, baru deh aku kirim email detil acaranya. Proposal, lah, istilahnya. Ada latar belakang, tujuan, dan ruang lingkup bahasan dalam bentuk kisi-kisi pertanyaan yang akan dilontarkan saat wawancara. Ohya, pilihan tanggal dan metode juga mereka yang memilih. Hamdalah, semua narasumber yang kutembak itu menerima pinanganku walaupun ada yang butuh negosiasi lama untuk meyakinkannya. Hehe. Yang menarik, saat mereka milih tanggal itu secara kebetulan nggak ada yang bentrok dan semua berada di minggu yang sama, padahal saya kasih pilihannya periode dua minggu. So, saya tambahin proyeknya pake embel-embel “Sharing Week” dan merencanakan acara selesai dalam seminggu saja.

Waktu cerita ke suami, dia sempat mengkritisi, “Kok dihabisin semua dalam seminggu? Harusnya kan dibuat bertahap tiap minggu, kek, biar orang-orang aware dulu jadi ntar yang join kan nambah terus.” Well, aku sempat ragu sih, tapi bukan Ega namanya kalo nggak keukeuh sama kemauannya 😀

Pertimbanganku menjadikan keenam sesi dalam satu waktu ada beberapa:

  • Effort-nya sekalian, semangatnya juga sekalian -> ibarat training camp yang dilakukan langsung selama beberapa hari, begitu pun saya maunya untuk acara ini, apalagi temanya sama, cuma beda-beda narasumber aja, jadi nggak kerja berkali-kali untuk menyamakan suhunya lagi baik di pihak host, narsum, maupun audiens. Kalo dijeda seminggu-seminggu siapa bisa jamin semangatnya masih sama atau sehat enggaknya kita.
  • Jepang pas kebetulan ada siaga gelombang panas (heatwave) selama seminggu, jadi pas banget buat mager keluar rumah 😛
  • Sebagian orang di Jepang sedang libur Obon (sebuah budaya Jepang di musim panas) mulai dari yang hanya 1 hari sampai cuti bersama beberapa hari, jadi diharapkan lebih banyak massa yang aware dengan acara ini. Masa liburan ini yang biasanya kami pakai untuk mudik ke Indonesia. Sayangnya tahun ini tidak bisa karena COVID.
  • Halaqah online saya lagi libur, jadi

 

EKSEKUSI!

Minggu berikutnya sejak kesepakatan dengan para narsum, diluncurkanlah program ini. Kok ga konsisten ya? tadi proyek sekarang program.. wkwk. Ya, pokoknya gitu, deh. Jadilah jadwal harianku minggu itu sbb:

4.00 – 5.00 = Nyiapin bahan publikasi di medsos hari itu (editing video, desain poster, nulis) dan nyimak rekaman hari sebelumnya

10.00 – 11.00 = Posting di IG atau FB tentang review hari sebelumnya dan ajakan untuk bergabung di sharing hari itu

Selebihnya tergantung “jam siaran”-nya kapan, tapi maksimal sejam pra acara lah saya posting di Story (bukan Feed Utama)  saya posting video iklan yang syutingnya sudah dilakukan sekaligus sebelum program dimulai.

Misalnya, acaranya jam 5 sore waktu Jepang, sekitar jam 3-nya saya posting video pengingat dan profil narasumbernya. Di Instagram, sangat terbantu dengan fitur countdown yang bisa dinyalakan oleh follower kita.

Antara pukul 15.00 – 19.00 = LIVE selama 1 jam bersama narasumber, kecuali sesi ke-5 yang diadakan sangat pagi pukul 7 Jepang, ditambah persiapan dan cek-riceknya kira-kira 30 menit lah, terus masih ditambah posting lagi di Story sebagai pemberitahuan bahwa acara sudah beres. Wuihhh, banyak deh pokoknya to do list-nya ngadain acara bagi single EO macam saya. Haaha.

Untuk masalah teknis, suami juga membantu dalam setting mic, kamera, recording, atau masalah koneksi internet.

Gara-gara acara ini, jujur aja minat masak sama sekali nggak ada, jadi banyak ngandalin stok lauk di freezer. Ngajak main anak juga di rumah aja nggak kaya biasanya dibawa keluyuran mulu 😛

Alhamdulillah, everything is done as expected, only I still have to edit the recording for uploads on Youtube.

BAHASAN SHARING

Untuk setiap narasumber, mama memberi kisi-kisi pertanyaan yang sama agar mereka tidak kaget saat sesi sharing. Poin-poinnya meliputi hal-hal yang tercantum di gambar berikut.

Poin-poin pembahasan "Bisnis Emak Rantau" Sharing Week

Poin-poin pembahasan “Bisnis Emak Rantau” Sharing Week

Sebelum hari-H, saya meminta para narasumber menyiapkan slide presentasi singkat yang memudahkan penonton untuk memahami alur bahasan di atas. Ukuran slide juga musti saya pikirin biar kelihatan di layar IG Live versi kolaborasi dua orang. Keciiil banget layarnya kan, jadi saya ujicoba dulu dengan suami, ambil screenshot, baru deh ngasih arahan ke narsum gimana bikinnya. Agak tricky juga karena layar yang menampilkan wajah tidak bisa disembunyikan sehingga jika slide tidak digeser ke kiri, kontennya bakal ketutupan sebagian. Hahaha.

Contoh slide show di Instagram Live

Contoh slide show di Instagram Live – #BisnisEmakRantau sesi 4 (kiri: slide yang disiapkan, kanan: penampakan hasilnya saat Live)

Contoh slide show di Instagram Live – #BisnisEmakRantau sesi 5 (kiri: slide yang disiapkan, kanan: penampakan hasilnya saat Live)

Ada beberapa teman yang bertanya tentang gimana cara nampilin slide-slide ini. Sebenarnya memang ada menu di bagian pojok kanan bawah Live Instagram untuk membuka foto dari galeri hape kita, tapi entah kenapa ya nggak semua user nemu tombol tersebut.

DAFTAR NARASUMBER DAN JADWALNYA

SHARING ❶
🗓 11 Agustus 2020 pukul 15.00 JST / 13.00 WIB

Melli Sri Wulandari a.k.a. Imel a.k.a. Mak Alli, owner Masakan Mak Alli
“Produksi Nasi Padang Paling Autentik se-Jepang Sambil Mengasuh Empat Buah Hati Tanpa ART”

Rekaman:

SHARING ❷
🗓 12 Agustus 2020 pukul 18.00 JST / 16.00 WIB

Evi Suaebah, doktor lulusan Jepang anggota Oriflame MLM dengan level Senior Director
“Kuliah Doktor Sambil Bisnis, Pulang-pulang Jadi Director”

Rekaman sementara dari IGTV:

SHARING ❸
🗓 13 Agustus 2020 pukul 18.00 JST / 16.00 WIB

Vany Vindri, owner Origami Japan Tour
“Multibisnis di Usia Muda, Ngebosin Orang Jepang pun Bisa”

Rekaman sementara dari IGTV:

SHARING ❹
🗓 14 Agustus 2020 pukul 17.00 JST / 15.00 WIB

Dian Novitasari, owner Dania Hijab Store yang sekaligus distributor Kiciks
“Distributor Fashion Muslim di Negeri Minoritas Sembari Mengkaryakan Komunitas”

Rekaman sementara dari IGTV:

SHARING ❺
🗓15 Agustus 2020 pukul 18.00 JST / 16.00 WIB

Bintang Roswita, owner O Crab by Maita dll.
“Bisnis Kuliner Beda 12 Jam Nyambi Jastip Profesional, Kok Bisa Ya?”

Rekaman sementara dari IGTV:

SHARING ❻
🗓16 Agustus 2020 pukul 18.00 JST / 16.00 WIB

Rizki Amelia, owner Kikaramel Cake
“Bisnis Kue Yang Out of Box ala Kikaramel Cake, Menjadi Kegalauan Atas Banyak Orang”

Rekaman sementara dari IGTV:

Di mana bisa nonton semua sharing ini?

Cusss, langsung aja cek Instagram-nya Mama, jangan lupa follow, dan buka menu IGTV, ya. Rekamannya bisa dilihat juga di channel Youtube Mama, tapi berhubung editing-nya butuh waktu, jadi harap sabar ya, Gaesss.. satu per satu kalo udah jadi akan aku masukkan ke artikel ini biar gampang navigasinya.

Kenapa udah ada di IGTV masih perlu Youtube?

Pertama, nggak semua orang punya IG. Kedua, biar bisa diedit bagian yang kurang penting (ex: jeda). Ketiga, for better experience! Kalo video di Youtube, bisa sekalian nampilin gambar slide aslinya, nampilin captures dari komentar-komentar partisipan (ingat, Rekaman Instagram Live tidak menampilkan interaksi orang yang masuk! jadi kaya berapa jumlah peserta, komentar dan pertanyaan mereka, atau apa pun itu nggak kelihatan di rekamannya. saya pakai hape lain untuk merekam itu semua), dan bisa ditambahkan informasi-informasi saat editing video poin yang mau ditekankan dari materi pembicara.

Still so many things to do… sebagai single fighter bikin acara ini, enam sesi aja tuh udah cukup memakan waktu dan butuh dedikasi, lho! Mulai tahap berkomunikasi dengan narasumber sampai dengan launching video rekamannya, semua harus dikerjakan sendiri. Namun, emang udah dasarnya suka bikin-bikin beginian, saya sih senang-senang aja ngerjainnya. Yang nggak senang ya mungkin anak atau suami karena lihat mamanya megang hape atau laptop mulu 😂.

Reaksi Bom Surabaya

Berikut adalah reaksi berbagai kelompok di lingkaran pertemanan saya terkait teror bom di Surabaya yang terjadi 13 Mei lalu. Saya membaginya di Instagram Story dan sebagian follower yang melihat adalah bagian dari golongan-golongan di sini 😁. Alhamdulillah, punya beragam jenis teman sehingga pandangan tidak jadi sempit.

Read the full post »

Andai SO Kita Depresi

Ada yang menarik dari perjalanan mudik akhir tahun kami kemarin. Meskipun cerita lengkapnya belum dirilis di blog sebelah akibat keasyikan upload di Insta Story doang, saya ingin berbagi episode nonton film Jepang di dalam pesawat keberangkatan. Karena ulasan JDorama dan yang bukan drama udah pakem di blog ini, sayang rasanya kalo saya melewatkan review movie adopsi manga (dan kisah nyata) satu ini: Tsure ga Utsu ni Narimashite (ツレがうつになりまして)diterjemahkan jadi My SO Has Got Depression. Di IMdB atau lapak-lapak rating asal Jepang sebenarnya skor film ini tidak cum laude, sebatas di atas rata-rata, tapi di hatiku cukup mendapat tempat yang spesial karena mengingatkan akan komitmen suami istri. Cailaaa..

Jadi yang menarik apa, dong? Nah, ceritanya kan saya mudiknya duluan sama anak saya, Musa (2 thn), kemudian suami nyusul empat hari setelahnya. Setelah beberapa hari ketemu, barulah tak sengaja ada pembicaraan seputar “film apa yang kita tonton di pesawat”. Wkwk.. nggak penting dan tumben banget itu. Eh, ternyata dari sekian banyak pilihan, kami sama-sama nonton film Jepang ini! Haha.. walaupun suami as usual gengsi ngakuin seleranya dengan statemen, “Futsuu” (bahas Jepang “biasa”, maksudnya filmnya biasa aja), toh dia katanya lihat sampai selesai juga :meh:.

Selain di hati kami, tampaknya film ini juga punya ruang tersendiri bagi para penggemar manga dan Youtuber. Kalo dilihat-lihat banyak yang upload potongan filmnya dan komentar-komentar. Salah satu komentar yang saya like bilang “Kore dake de naketa” (Ini aja udah bikin nangis) di trailer-nya. Emang bener banget, sih :cry:, tapi bagian favorit saya ada dua.. Read the full post »