Motivasi Menulis Sesuai Kaidah Berbahasa

Jika menilik kembali perjalananku menulis selama satu tahun ini, aku bersyukur sekali mendapat kesempatan untuk berkarya lagi. Memang dari dulu aku suka menulis dan perhatian pada EYD, tetapi sudah bertahun-tahun aku tidak menjadikannya kebiasaan, kecuali membuat deskripsi singkat (caption) untuk unggahan Instagram-ku. Aku yang suka desain grafis dan video editing ini pun sempat tenggelam dalam rutinitas vlogging selama 2020. Memasuki tahun kedua pandemi Covid-2019, ternyata datang peluang untuk menjadi pengurus Forum Lingkar Pena Jepang dan tak berselang lama kemudian diajak masuk grup Mamah Gajah Bercerita. Dua-duanya karena adanya proyek buku antologi.

Waktu itu, aku banyak mengalami roaming ketika anggota grup mulai membicarakan buku-buku terbaru. Sudah lama aku tak memperhatikan perkembangan dunia literasi. Menulis di blog pun tidak. Penerbitan, penyuntingan, apalagi penjualan buku adalah hal yang benar-benar baru buatku. Namun, dengan posisiku sebagai Ketua Divisi Karya dan Kaderisasi FLP Jepang, tiba-tiba semua jadi santapanku hingga kini. Aku menikmati pekerjaan menyunting naskah untuk proyek-proyek antologi yang kami kerjakan. Itu impianku sejak dulu.

Apa kau mau tahu apa kesan pribadiku setelah “CLBK” pada aktivitas menulis dalam dimensi yang berbeda? Aku menyadari bahwa keterampilan menulis berdasarkan kaidah dan berterima di meja redaksi tidak cukup dengan rajin mencatat pemikiran atau pengalamanku di media sosial. Aku perlu memaksa diri untuk menghadapi layar laptop dan menulis di blog atau aplikasi dokumen agar otakku tersugesti “lebih serius” dalam menghasilkan tulisan yang layak dipublikasikan. Bergabungnya aku dengan lingkaran yang sama-sama suka menulis adalah pengalaman baru. Merekalah yang membantuku untuk memperbaiki keterampilan menulisku melalui praktek demi praktek. Bukankah berlatih itu kunci?

Hari ini, izinkan aku menceritakan salah satu ruang praktek menulisku tahun ini, yaitu Tantangan MaGaTa. Dari program inilah, selama sebelas bulan terakhir, puluhan tulisan di blog ini dan blog keluargaku lahir. Kebetulan, hari ini aku diminta sharing pengalaman menulis dalam rangka peringatan satu tahun Mamah Gajah Bercerita (MaGaTa) berjalan. Kami agak berdiskusi tentang motivasi untuk menulis sesui kaidah berbahasa. Bahan diskusi tersebut aku sertakan juga dalam artikel ini.

This gonna be a long article, so please bear with me.

Read the full post »

Berlarinya 2021

Tibalah kita di tulisan yang ditunggu-tunggu sejuta umat mulai minggu ini, yaitu refleksi akhir tahun. Satu kata dariku untuk 2021: cepat! Kata orang, jika kamu menikmati sesuatu, segalanya akan terasa cepat. Begitu pun sebaliknya. Jadi, aku bersyukur bahwa di tengah pandemi yang masih berlangsung ternyata aku bisa menghabiskan tahun ini dengan nikmat.

Apa saja kenikmatan versiku itu? Berikut di antaranya.

Berhasil Menyapih Anak Keduaku

Melepas kewajiban menyusui bagiku merupakan kebahagiaan hakiki. Bukan karena aku tidak mencintai kegiatan itu, melainkan karena aku mengamati bahwa ketika seorang anak itu lulus ASI, ia tiba-tiba berubah menjadi seorang manusia independen yang bahkan mampu menidurkan dirinya sendiri. Noah, yang terlihat lebih sulit lepas dariku dibandingkan kakaknya, ternyata mampu melewati masa sapihnya dengan rekor hanya tiga malam drama kumbara. Kunci yang kurasakan ampuh adalah sounding terus-menerus sejak sebulan sebelumnya disertai pembiasaan minum susu sapi dari gelas lebih intensif.

Aktif Menulis Lagi

Masuknya aku sebagai anggota FLP Jepang dan Mamah Gajah Bercerita memberikan warna yang lumayan dominan pada tahun ini. Karena kegiatan kedua komunitas tersebut, aku jadi terdorong untuk aktif menulis lagi setelah sekian lama hanya menulis tanpa target. Kesibukan menulis ini sampai menggeser hobiku sebelumnya, yaitu memasak. Konsekuensinya, waktuku bergumul dengan gawai makin meningkat dan ini menuntutku untuk mengatur waktu lebih baik lagi sehingga aku tidak lupa kewajiban domestik yang tidak bisa dipasrahkan ke orang lain.

Read the full post »

Cut The Corners

Bertemu lagi kita di Tantangan MaGaTa dengan tema minggu ini adalah “Gawai: Menjadikan Kita Produktif atau Kontraproduktif?”. Hmm, tema yang sangat mudah memantik diskusi, ya!

https://www.instagram.com/p/CXaWuWSPhuQ/

Sebelum bicara lebih jauh, mari kita samakan persepsi dulu berdasarkan definisi di Wikipedia bahwa gawai punya ciri berupa unsur kebaruan yang lebih kecil seperti komputer dan telepon. Okelah, iPhone 13 Pro/Pro Max mungkin lebih besar daripada iPhone versi sebelumnya, tetapi dengan ukuran sekecil itu sudah bisa menampilkan kecanggihan teknologi fotografi yang setara dengan kamera besar (DSLR). Saat mencobanya, aku terkejut melihat hasilnya seperti mikroskop karena bisa membidik debu-debu yang tak kasatmata oleh mataku. Luar biasa!

Read the full post »

Makna Lebih dari Produktivitas

Pernah di suatu masa aku sangat menggandrungi situs Productive Muslim. Seperti namanya, situs tersebut banyak mempublikasikan artikel yang disertai infographics menggemaskan dengan fokus pada penciptaan-dan-peningkatan produktivitas. Banyak sekali life hacks yang aku dapatkan dari mereka tentang bagaimana mengisi waktu-waktu luang atau pikiran-pikiran kosong di sela-sela aktivitas.

Dari mereka, aku yang memang sedari dulu sudah gemar bersibuk ria, jadi terpengaruh untuk membuat kesibukan yang lebih menekankan kualitas daripada kuantitas. Walaupun sama-sama pekerjaan A, bisa jadi yang dikerjakan oleh kita dan orang lain berbeda skornya di mata Tuhan karena nilai prosesnya.

Aku akan beri contoh tentang pola pikir “produktif” yang bermakna lebih ini.

Read the full post »

Cuti Bulanan

Ada minimal satu hari dalam sebulan ketika aku harus mengambil ‘cuti’ dari semua pekerjaan rumah karena dysmenorrhea (sakit perut karena menstruasi). Bagusnya, orang serumah sudah maklum harus berbuat apa tanpa aku beri komando. Suamiku akan memasakkan makanan untuk anak-anak sekaligus mengambil alih pengasuhan mereka, sedangkan anak-anakku akan memberikanku bantal panas dan pijatan ala-ala.

Dulu, waktu aku masih gadis, setiap kali sakit bulanan yang kualami itu menyerangku, aku belum punya peralatan tempur seperti sekarang. Bodoh sekali kalau dipikir. Yang benar saja hanya minum jamu kunyit asam dan mengoleskan minyak kayu putih? Padahal, level sakit sebelum menikah jauh lebih tinggi dibandingkan setelah adanya seks, apalagi setelah melahirkan. Namun, karena beban hidup dan tanggung jawabku juga makin besar, tentunya upaya untuk menyembuhkan sakit yang mengganggu itu harus lebih smart, bukan?

Kini, aku sudah terbiasa mempersiapkan kedatangan “serangan” itu dengan menyelesaikan tanggungan pekerjaan yang urgen sebelum jadwal menstruasi. Biasanya aku sudah waspada kalau mulai pegal-pegal di punggung belakang, migrain, atau emosiku meledak-ledak (eh, ini sih hampir setiap hari!). Pada saat gejala-gejala tersebut sudah mulai terasa, suplemen penambah darah yang disertai kalsium dan magnesium langsung aku genjot konsumsinya. Khusus untuk migrain, aku tidak bisa mentolerirnya sehingga parasetamol adalah kunci agar aku tetap bisa produktif. Sakit perut juga begitu.

Aslinya aku bukan orang yang suka menenggak obat, tetapi suamiku, yang notabene adalah anak seorang dokter, selalu menyarankanku untuk minum pain killer dalam segala suasana. Entah itu pusing kepala, sakit perut, nyeri otot setelah berolahraga, ngilu karena terbentur sesuatu, mati rasa setelah vaksinasi, atau (yang paling konyol) saat aku menderita mastitis. Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya terbiasa minum pain killer seperti sarannya dan voila … walaupun perlu waktu, it works like magic! Meskipun demikian, tetap saja aku masih perlu ‘cuti bulanan’. Mual dan pegelnya enggak bisa hilang soalnya. Ha ha ha.

Ah, andaikan dulu aku lebih tegas mengobati sakitku, aku tidak perlu jadi langganan UKS tiap menstruasi. Tak akan ada pula kejadian muntah di jalan saat sedang menyetir motor di Jalan Dago karena keliyengan seandainya sudah tahu sakit seperti itu tidak boleh dipaksakan beraktivitas normal. Lebih baik ambil kesempatan untuk minum obat atau sekalian saja rehat sejenak untuk mengantisipasi kepayahan yang tak diinginkan.

Doa untuk Diri Sendiri

Halo! Jumpa lagi pada tulisan Senin malam dalam rangka menjawab Tantangan MaGaTa. Saat ini aku kebetulan sedang bepergian ke luar kota. Bukan cuma di Indonesia saja yang ada harpitnas (hari terjepit nasional). Di Jepang, hari-hari kerja di antara hari libur biasa dimanfaatkan orang untuk mengambil cuti. Atas dasar alasan itu juga, ditambah karena memang disuruh ambil cuti saking jatahnya masih banyak, suamiku memutuskan untuk menggenapkan agenda business trip-nya dari dua hari saja menjadi lima hari sembari mengajak keluarga. Singkat cerita, inilah aku yang baru banget masuk kamar hotel dari berpetualang seharian dengan kaki pegal-pegal, berusaha untuk menuliskan kembali cerita tentang kesehatan mentalku hampir tiga tahun lalu …

Read the full post »

Makan Sehat Saja Tidak Cukup

Pernahkah Anda bertanya-tanya lebih penting mana antara makan sehat atau berolahraga agar tubuh kita sehat? Pertanyaan tersebut cukup sulit untuk dijawab dengan data, tetapi aku percaya bahwa keduanya perlu dilakukan secara seimbang demi menjaga seluruh organ kita berfungsi secara semestinya. Sebagai orang yang kurang rajin exercise, aku melihat diet tanpa olahraga itu sama saja seperti mengerjakan ujian dengan melahap dan menghafalkan banyak soal try out tanpa mempelajari ulang teorinya. Mungkin kita bisa mendapatkan nilai bagus atau anggaplah berhasil lulus ujian, tetapi kita sebenarnya tidak memahami betul materi yang diujikan. Akibatnya, saat ujian berikutnya atau tiba saatnya mengaplikasikan ilmu di dunia kerja, kita cuma bisa bengong.

Olahraga dibutuhkan untuk menjaga kondisi yang sudah kita usahakan dari diet, baik dalam rangka menurunkan berat badan maupun justru menaikkannya. Jadi, orang kurus jangan takut berolahraga dengan alasan takut makin kurus karena lemak-lemaknya dibakar, ya! Hahaha. Aku pernah ikut challenge selama dua minggu dengan seorang personal coach. Selama itu, setiap harinya kami diminta melaporkan makanan yang kita makan, lalu dikoreksi kalorinya, dan kemudian diberi porsi workout harian. Di akhir challenge, benar saja aku bisa mencapai tujuanku, yaitu menaikkan beratku sebanyak tiga kilogram! Sayangnya, selepas dari program tersebut, aku tidak melanjutkan lagi pola hidup yang dilatih.

Read the full post »