Kunci Hidup Bahagia (dan Sehat)

Setelah sekian lama blog ini lumutan, yuk kita isi dengan tulisan yang bermanfaat😀 Tulisan ini dibuat tiga hari setelah ultah saya ke-27. Pas banget deh direnungkan buat kembali menata hidup.. tsaaahhh. Manusia tempatnya salah dan lupa, maka perlu kontrol sosial untuk membuat kekurangan itu minimal. Menuliskannya di sini adalah salah satu caranya. Sebagaimana opening words dalam video yang saya bahas di sini, pernahkah Anda bertanya:

Apa yang membuat manusia bahagia dan sehat selama hidupnya? Andai kita sedang berinvestasi sekarang, untuk apa sih waktu dan energi kita habiskan?

Pertanyaan simpel di atas ternyata harus dijawab melalui penelitian 3/4 abad, lho! Disarikan dari presentasi Robert Waldinger di TEDx Talks, di sini saya coba rekapin ya apa yang saya ingat dan kepikiran setelah nonton videonya (bisa diputar di bawah ini) karena saya cari ternyata belum banyak artikel berbahasa Indonesia membahasnya. Perlu diingat bahwa yang saya tulis bukan persis plek seperti terjemahan dan saya nggak ada waktu buat mutar videonya lagi demi nyocokin, jadi feel free buat koreksi. Di bawah ulasan video, saya tambahin juga kicauan topik terkait, hasil dari baca buku.

Read the full post »

[Diary Haji] Hari #10 – Saat Maut Terasa Mendekat

Rabu, 16 Oktober 2013 (11 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-9: [Diary Haji] Hari #9 – Antara Muzdalifah, Mina, dan Mekkah

Jumrah Kedua

10.1 - breakfast Mina 11 Dzulhijjah

Sarapan 11 Dzulhijjah di Mina: semacam ikan tongkol goreng

Pagi hari ketiga berdiam di Mina ini bisa dibilang adalah yang paling tenang dibandingkan hari-hari sebelum dan sesudahnya. Selain tinggal separuh jemaah kami yang tersisa di Mina, tidak ada agenda kegiatan dari agen maupun panitia haji hari ini. Namun, sebagai bagian dari wajib haji, jemaah masih harus menunaikan lempar jumrah kedua. Sebagian rombongan kami yang pergi ke Mekkah dini hari tadi belum kembali. Mereka bersama ketua rombongan dan ustaz pembina dijadwalkan melaksanakan thawaf ifadah di Masjidil Haram pagi ini sebelum Subuh dan kembali sebelum azan Dzuhur. Bukan hanya suasana yang agak beda, melainkan juga menu sarapan kami kali ini: ikan goreng cita rasa Indonesia😛

Menjelang Dzuhur, kami yang tetap stay di Mina pun bertolak sendiri menuju Jamarat dipimpin seorang jemaah haji lain yang ditunjuk oleh Mr. Mian, entah siapa, sepertinya berasal dari kontingen negara lain. Sebelumnya, Kamijo-san, satu-satunya pria Jepang dalam rombongan kami yang beristrikan wanita Indonesia dan membawa serta ketiga anaknya, telah kembali dari Jamarat. Ia berangkat lebih dulu untuk menghindari kepadatan jemaah karena mengajak serta anak perempuannya (foto ada di tulisan sebelumnya). Kasihan anaknya kalo harus berdesak-desakan dengan manusia sebanyak itu. Ia dan seorang pria Bangladesh, suami satu-satunya wanita Jepang dalam rombongan kami (penting banget yak gue jelasin.. wkwkwk), sama-sama harus mewakili pasangannya yang berhalangan lempar jumrah.

10.2 - walk to Jamarat 11 Dzulhijjah

Suasana perjalanan menuju Jamarat hari kedua lempar jumrah, kali ini saya sempat mengambil gambar😀 Kami berangkat sendiri tanpa dipimpin oleh ketua rombongan karena beliau masih bersama jemaah yang kembali ke Mekkah malam harinya untuk thawaf ifadah

Jejalan manusia tetap padat seperti hari sebelumnya, tapi hari ini lebih ada ruang untuk bergerak lah. Mungkin karena di hari pertama sudah banyak jemaah yang tahu lokasi dan situasinya, mereka bisa merencanakan perjalanan lebih baik. Mungkin juga karena sebagian tersedot ke Mekkah seperti separuh rombongan kami. Singkatnya, selama kami bergandengan tangan dengan pasangan masing-masing (udah nggak ihram, yes!) menikmati perjalanan ke Jamarat hari kedua itu suasana berjalan sungguh damai dan tentram, hingga akhirnya terjadi huru-hara di terowongan Mina yang kami pikir hampir merenggut nyawa kami. Read the full post »

[Diary Haji] Hari #9 – Antara Muzdalifah, Mina, dan Mekkah

Selasa, 15 Oktober 2013 (10 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-8: [Diary Haji] Hari #8 – Wukuf di Arafah

Episode sepuluh Dzulhijjah (dihitung sejak Maghrib hari Senin-nya sesuai kalender qamariyah) mencakup empat agenda penting: mabit di Muzdalifah, jumrah aqabah, tawaf ifadah, dan tahalul akhir. Siapkan stamina Anda!😉

Alhamdulillah sekali lagi perjalanan kami dimudahkan Allah. Dari Arafah hingga mendapat kapling di Muzdalifah hanya memakan waktu setengah jam. Sama halnya seperti Arafah, untuk bermalam di Muzdalifah sebagai bagian dari wajib haji, tiap jemaah, baik yang jalan kaki maupun yang naik kendaraan, juga harus yakin dan berilmu bahwa dirinya sudah masuk di wilayah Muzdalifah. Bukannya di perbatasan atau masih di wilayah Arafah.

Lokasi bermalam tiap maktab sudah ditentukan dan ada panduannya, tapi persisnya di sebelah mana tiap rombongan harus cari sendiri. Lapak kami bersebelahan dengan jemaah Air1Travel lagi dan dekat toilet/tempat wudu. Nggak nyangka juga di Muzdalifah ada toilet dengan kualitas yang sama seperti Mina / Arafah dan cenderung sepi sepanjang waktu. Jangankan mikir kotor dan baunya, dari awal datang keberadaan toilet tersebut malah bak fatamorgana di padang pasir buat saya karena di Mina / Arafah antrian toiletnya bikin eneg. Belum puas rasanya buang hajat atau bersihin badan sejak bertolak dari Mina untuk wukuf😀.

Toilet and bathroom in Muza

Toilet and bathroom in Muzdalifa. Lebih damai daripada di tempat lain:)

Read the full post »

[Dorama Review] Ashita, Mama ga Inai

I’ve done watching this dorama three days ago: 明日、ママがいない (Ashita, Mama ga inai / Tomorrow, Mama won’t be here), another touching “dorama”, recommended for parents to be, reminded me that being mother (or father) is a honor, so take its responsibility seriously the best we can or someone else will replace our role. As usual, I always love Japanese dramas for those abundant words of wisdom. This time I was hooked on one below. It may sound controversial, but somehow the quote

「事実の親と真実の親は違うんです!」- Jijitsu no oya to shinjitsu no oya wa chigaun desu – “Parent who give a birth (factual parent) and the real parent is different”

has made me think deeply, that in fact some parents are absent or unable to take care of their child/children, while there are couples still struggling to have child on their own. Since learning and practicing parenthood is a never ending journey, hope we can be both jijitsu and shinjitsu parent.

I watched the full series here (English sub): www.gooddrama.net/japanese-drama/ashita-mama-ga-inai. Make sure your browser has flash plug-in enabled. Prepare plenty of tissues and enjoy!

Read the full post »

[Diary Haji] Hari #8 – Wukuf di Arafah

Senin, 14 Oktober 2013 (9 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-7: [Diary Haji] Hari #7 – Hari Tarwiyah di Mina

Gambaran Arafah

Hari ini pasti jadi salah satu hari paling sakral dalam hidup seorang muslim selain mungkin err.. hari pernikahannya? harinya masuk Islam bagi yang mualaf? Buat saya sampai detik menjelang wukuf ini ijab qabul masih menjadi momen tersakral. Hehehe. Ya, wukuf di Arafah menjadi syarat mutlak sahnya haji seseorang dalam kondisi apa pun dia, baik yang sehat dan segar bugar maupun yang sakit keras dan hanya bisa berbaring, semua diwajibkan untuk pergi ke padang Arafah melaksanakan wukuf. Banyak muslim menggambarkan padang Arafah seperti miniatur padang mahsyar di hari akhir kelak dan begitu pula bayangan saya ketika kami ziyarah ke Jabal Rahmah yang terletak di salah satu sisi Arafah. Dari puncak bukit yang konon tempat bertemunya Adam as. dan Hawa itu, sepanjang mata memandang hanyalah tampak hamparan padang pasir berbatu dengan terik matahari yang luar biasa. Saat itu sudah dua hari sebelum masa haji dimulai dan dari sisi sana belum tampak adanya tenda-tenda untuk jemaah wukuf yang dipasang. Terbayang betapa miripnya ketika daerah itu terisi lautan manusia. Mengingat wukuf 9 Dhulhijjah ini merupakan agenda terpenting selama haji, maka jemaah perlu berusaha optimal agar tidak sakit.

Sesuai rencana, rombongan kami bertolak ke Arafah selepas ibadah Subuh. Kesibukan mengantri kamar kecil (lagi-lagi..) dan mempersiapkan bawaan menyita perhatian kami sehingga “roti cane Mina” yang rencananya mau dibeli pagi ini dan dibawa ke Arafah terpaksa harus dilupakan dulu😐. Tidak ada jatah sarapan pagi ini di Mina, jadi jemaah hanya mencukupkan isi perut dengan makanan yang ada di tas masing-masing. Saya sendiri selalu kelebihan jatah biskuit yang kerap diberikan secara cuma-cuma sejak di Mekkah hingga Mina oleh para dermawan atau memang disediakan panitia. Yang sering jadi problema justru minuman.. hehe. Tahu kan ya kalo udara panas biasanya lebih haus berkali-kali lipat daripada lapar. Itulah sebabnya saya menyarankan calon jemaah untuk bawa botol minum yang gede, kalo perlu kapasitasnya minimal satu liter biar nggak khawatir kehausan meski kehabisan air mineral botolan atau jus buah kotakan😀. Ngomong-ngomong, saya juga bawa banyak stok kurma yang menurut manasik haji di Indonesia mampu mengawetkan wudhu alias menjaga agar jarang kentut. Gimana ya itu penjelasan ilmiahnya? kebetulan saya belum pernah cari, dulu percaya-percaya aja, dan mungkin karena sugesti jadi beneran kalo makan kurma nggak gampang brat brut :mrgreen:. The power of belief! Read the full post »

[Diary Haji] Daftar Bawaan dan Persiapan Sebelum Berangkat

Tak terasa musim haji sebentar lagi kembali hadir. Saya kembali diingatkan untuk melanjutkan sharing tentang haji dari Jepang yang baru selesai 6 per 15 hari😀 Tolong maafkan kemalasan saya.. sebelum lanjut ke hari berikutnya (semoga sampai tamat, aamiin) berikut saya bagi daftar bawaan haji dulu barangkali calon jemaah tahun ini butuh referensi.

Pertama-tama, jika Anda pergi dengan pasangan atau anak, pastikan dulu bagaimana nanti tempat tidurnya apakah bersamaan atau terpisah. Pengalaman saya kemarin agak salah strategi karena kami maunya bawa koper yang siap hilang (ini sekaligus dipesan oleh penanggung jawab rombongan)😀 dan kebetulan koper yang seperti itu di rumah kami berukuran besar, jadi barang saya dan suami digabung ke koper tersebut. Hal ini cukup merepotkan selama di penginapan yang terpisah ikhwan vs akhwat. Saya harus switch items koper besar itu dengan koper ukuran kabin agar barang-barang suami bisa dibawa ke kamarnya. Belajar dari pengalaman itu, “Packing”  menurut saya merupakan salah satu aplikasi traveling yang bagus sekali karena sudah menyertakan kolom person dan bag. Sebenarnya saya juga pakai aplikasi ini, tapi waktu packing tetep nggak disusun menurut person (kepemilikan barang)😀

Ini dia gambaran isi aplikasinya… didalamnya sudah ada daftar kategori, jenis, dan nama barangnya, jadi kita tinggal pilih dan menambahkan yang belum ada di daftar aja (atau mengeditnya, misal dari “watch” jadi “arloji”). Sangat membantu, kan?

Gambaran aplikasi Packing dari App Store

Gambaran aplikasi Packing dari App Store

Read the full post »

Change, We Support!

Saya sebenarnya udah moved on dari presiden-presidenan sejak awal bulan ini selain karena sibuk pindahan, ya semuanya saya anggap udah beres. Hanya ada sebagian kecil aja yang masih ngajak ribut, jumlahnya paling tidak sampai 10% penduduk Indonesia:mrgreen:. Akan tetapi, belakangan ini rupanya timeline saya ramai lagi.. kebijakan biasa sih, cuma karena presidennya orang baru yang sebelumnya banyak haters-nya, jadi pada semangat nge-buli😛

Bahasa Inggris dihapus protes, subsidi BBM dihapus protes juga.. kalo di Amrik semangatnya udah “Change, We Can!”, di Indonesia mau “Change, We Support!” aja susahnya minta ampun. Memang yang namanya perubahan itu wajar kalo di awal bikin ‘sakit’. Ibaratnya kaya kita diet, pasti nggak enak bingits makannya jadi dibatasin, tapi kan dengan mengubah pola makan kita itu ada tujuannya, misal biar lebih kurus, lebih gemuk, lebih sehat, dsb., daaan kalo itu udah tercapai, wow manfaatnya lebih besar daripada sebelum berubah. Kalo tetap ingin merasa nyaman dan aman, para tokoh inspiratif yang ilmu / karyanya itu tak perlu bersusah payah mengadakan perubahan untuk dirinya hingga akhirnya ia bisa mengubah peradaban.

Pernah nggak bikin revolusi tahun baru yang rada ekstrim terus dijalanin? Bersyukurlah kalo cuma hati kita yang protes karena bukan tak mungkin orang di sekitar kita ikut bereaksi, padahal itu baru buat diri sendiri ya? Apalagi kalo benerin sistem yang udah lama nggak bener buat mecahin masalah bangsa yang puluhan tahun nggak terselesaikan dan berdampak ke manusia senegara.. wuih, salut lah kalo ada orang yang ngebeeet banget jadi presiden (uhukk..).

Read the full post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 107 other followers